Syair

0

Menyenandungkan lagu tanpa suara, hanya syair-syair dari getar hati yang lirih terangkai dan mengalun bersama untaian rasi bintang di langit. Menghantarkan kerinduan hati yang telah terluka, terhempas pada-Mu Tuhan.

Ketika embun tak lagi menyentuh pucuk daun, sejuk sang pagi tiada lagi terasa. Menari tanpa irama, meratap tanpa suara. Selamat pagi kekasih, yang tak kuasa kusentuh dan kupeluk lagi.

Ada suatu masa dimana negara dipimpin para durjana, hukum diperjualbelikan, norma dan susila diremehkan, beribadah karena rutinitas semata, makin banyak pengangguran dan bencana. Tuhan, mengapa kupu-kupu jadi langka di taman ini.

Bencana datang lagi, lagi-lagi rakyat jelata yang jadi korban. Seolah mereka menjadi tumbal persembahan para durjana.
Orang miskin yang hanya punya mimpi dan airmata, kini semakin tersiksa dan menderita. Ampuni kami Tuhan, yang kian lemah bermunajat pada-Mu.

Cinta yang tak tulus dan suci ketika terpisah, peluh kasih dan sayang yang pernah bersemayam diluluhlantakkan, kadang masih datang dan menyapa hanya sebatas merasa bersalah dan pura-pura, karena belas kasihan atau entah apa.
Cinta yang dicipta Tuhan untuk kedamaian dan kebahagiaan, kini semakin terasa bagai pelarian dan balas jasa.

 Relung hati yang terus menyisir kepekaan di masa lalu, masih terus berjalan dengan langkah tertatih namun terus maju. Detak jantung dan desir aliran darah di sekujur tubuh adalah irama bersama debu dan panas matahari, embun dan dinginnya malam hari sebagai saksi pencarian ini. Naluri dan fikir ini terus menari untuk membentuk harmoni dalam perjalanan menyusun untaian butir-butir kepekaan itu. Kata suci yang didengar untuk kemudian diucapkan, mimpi yang silih berganti hadir terus menggoda dan berbisik merdu bahwa semua itu memang ada. Ada untuk kita sebagai pewaris kepekaan itu, yang telah sekian lama melupakan namun tidak sampai mengingkarinya.

Prembun, Indonesia

Leave A Reply