Pola Pikir Personifikasi

0

Pola Pikir PersonifikasiPersonifikasi dalam pengertian sastra adalah mengorangkan benda. Benda mati dipandang seperti halnya manusia, dapat bertindak atas kemauannya sendiri atau dapat berbuat sebagai subjek yang berakal. Dalam dunia sastra kita membaca atau mendengarkan ungkapan: angin topan mengamuk menghancurkan seluruh isi kampung dan membinasakan banyak penduduknya.  Penggunaan kata-kata mengamuk, menghancurkan dan membinasakan, menggambarkan angin topan seolah-olah mempunyai kehendak seperti manusia yang berlaku sebagai subjek.

Penggunaan personifikasi dalam batas-batas tertentu mungkin sekali tidak menimbulkan sikap pengingkaran terhadap Allah SWT dan kekuasaan-Nya. Tetapi penggunaan personifikasi yang terlalu bebas dapat menimbulkan sikap pengingkaran dan peniadaan Allah SWT serta kekuasaan-Nya. Dalam hal ini kita bisa mengambil contoh pada uraian pelajaran bidang Biologi sebagai berikut :
1). Pada asalnya makhluk itu berasal dari satu sel, kemudian sel ini berkembang membelah diri membentuk makhluk yang terdiri dari banyak sel, termasuk di dalamnya manusia. Pernyataan semacam ini dalam buku-buku biologi secara tidak disadari telah menciptakan suatu kesan bahwa makhluk satu sel-lah pencipta makhluk-makhluk lain yang mempunyai sel lebih banyak. Pola pikiran semacam ini secara jelas tidak lagi menempatkan sel sebagai hasil ciptaan dari Sang Maha Pencipta, Yang Maha Besar dan Maha Berakal, tetapi justru sel itu sendirilah yang menjadi ada tanpa diciptakan oleh yang lain.

2). Energi menimbulkan daya dan cahaya. Sedangkan energi itu sendiri berasal dari gaya. Dalam pola pikiran semacam ini digambarkan energi sebagai suatu kekuatan berakal dan berkehendak serta mempunyai kekuasaan untuk menjadikan adanya cahaya dan daya atau menghilangkan dan menjadikan adanya cahaya. Dengan kata lain, daya listrik hanya dapat terjadi jika energi listrik itu ada.

Alam pikiran yang dibentuk oleh biologi dan fisika yang kita ungkapkan dengan gaya bahasa personifikasi seperti pada contoh di atas, tidak disangsikan lagi secara berangsur-angsur menanamkan suatu pola berpikir yang dekat kepada pengingkaran aqidah tauhid, yaitu bahwa segalanya ini semata-mata ada, karena materi itu sendiri.

Dengan mengggunakan pola pikiran materialistis, maka atheis personifikasi dalam dunia sains yang bersifat prinsip seperti kita contohkan pada bidang biologi dan fisika di atas, membuka pintu lebar terbentuknya pola pikiran pemisahan agama dengan ilmu pengetahuan. Artinya ilmu pengetahuan merupakan satu kegiatan yang sama sekali lepas dari sumber ajaran Ilahi, dan karena itu, ilmu pengetahuan identik dengan pemikiran materialisme, sedangkan agama merupakan lapangan pemahaman dan pengetahuan mengenai ketuhanan yang berangkat dari khayal dan angan-angan yang tidak dapat dibuktikan dalam alam realitas dan eksperimen ilmu pengetahuan. Keadaan semacam inilah yang kini benar-benar terjadi di zaman modern ini.

Kita selalu mendengar pernyataan-pernyataan para ilmuwan di Perguruan Tinggi dan laboratorium yang bersikap sinis terhadap Allah SWT sebagai Maha Pencipta, Maha Pengatur, Maha Penentu, Maha Pengendali, dan Maha Berkehendak terhadap semua makhluk di alam semesta. Dan karena itu apa yang ada di alam semesta ini merupakan tanda-tanda kekuasaan-Nya, sehingga gejala yang terjadi di alam ini hanya merupakan bagian dari kekuasaan-Nya. Karena itu, jika seluk-beluk alam semesta ini difirmankan oleh Allah SWT dalam kitab suci-Nya, maka sesungguhnya apa yang terkandung dalam firman-firman-Nya itu sejalan dan sebangun dengan apa yang tertera di alam semesta ini. Dengan demikian kesatuan isi antara firman-firman Allah SWT dengan segala yang tertera di alam semesta ini sudah pasti tidak saling bertentangan, tetapi justru menunjukkan adanya kesatuan konsep Ilahiah. Namun justru kini kita berada dalam pola pikiran yang aneh. Pola pikiran yang berkembang pada dunia ilmu pengetahuan justru beranggapan bahwa rumusan-rumusan ilmu pengetahuan sama sekali jauh dan barangkali bertentangan dengan ajaran yang terkandung dalam kitab-kitab Allah SWT. Karena itu para ilmuwan menjauhkan diri dari usaha untuk melakukan penelitian dan eksperimen yang didasarkan pada asumsi-asumsi bersumberkan pada firman-firman Allah SWT. Akhirnya yang ditimbulkan oleh sains yang nyaris anti agama, adalah terbentuknya pola pemikiran: “Agama adalah Agama, dan Sains adalah Sains”, artinya, janganlah Agama dijadikan dasar sains dan sebaliknya sains jangan dicampuradukkan dengan agama”.

Pola pikiran ini memang subur berkembang di dunia Barat, suatu wilayah dunia maju yang sangat didominasi oleh agama Kristen. Agama ini memang mengalami pertentangan yang pahit dengan sains, akibat permusuhan para penguasa gereja terhadap usaha-usaha penelitian dan eksperimen para scientis. Contoh popular permusuhan gereja dengan dunia sains adalah dalam kasus Nicolaus Copernicus yang dihukum mati oleh gereja karena ia berkeyakinan bahwa bumi ini bulat, tetapi gereja berpendirian bumi ini datar.

Dari pengalaman Barat yang pahit dengan penguasa gereja ini, kemudian secara berangsur-angsur sains mengambil jarak dengan Islam karena menganggap sama saja dengan Kristen. Kejadian semacam ini sebenarnya dapat kita maklumi, karena para scientist Barat tidak mengenal Islam secara baik. Tetapi yang sangat menggelikan, bahwa para scientist Perguruan Tinggi di negara-negara Islam mengaminkan perilaku para scientist Barat semacam itu. Akhirnya merekapun dalam menyajikan pelajaran kepada mahasiswa tetap dengan pola pikiran anti agama dalam arti pemisahan sains dengan agama.

Pada saat mereka menghadapi permasalahan agama, pikiran mereka terbelah dan sikap mereka terpecah antara disiplin pemikiran sains dengan tuntutan pemahaman agama. Sikap mereka semacam ini adalah hal-hal yang sifatnya dogmatis, harus diterima tanpa pemikiran kritis. Mereka beranggapan bahwa ajaran-ajaran agama hanyalah sesuatu yang sekedar dapat dipercayai, tetapi tidak dapat lebih jauh lagi dianalisa dan dipelajari secara rasional.

Dalam masalah ini agaknya perlu sedikit kita berlaku teliti dan cermat untuk membedakan contoh Perso yang bercirikan kekafiran dan pola Perso yang bersifat kesusatraan semata. Di atas telah diebrikan 2 pola Perso yang dengan mudah membedakan mana yang mempunyai sikap kekafiran dan mana yang sekedar bersifat sastra. Menggunakan pola Perso dalam masalah-masalah yang menyangkut hukum alam (sunatullah), dalam hal semacam ini dapat menimbulkan anggapan bahwa alam semesta itu sendiri yang berkuasa dan berkehendak tanpa Allah. Contohnya pada makhluk satu sel tersebut di atas. Sedangkan Perso yang bersifat kesusatraan seperti angin topan mengamuk, dalam hal ini sama sekali tidak mencerminkan adanya pengingkaran terhadap kekuasaan Allah. Karena angin topan mengamuk tidak menggambarkan adanya pencipta baru.

Memang ada keberatan sebagian orang terhadap semua firman Allah yang ada dalam Al Quran sebagai dasar asumsi sains untuk melakukan kegiatan penelitian dan eksperimen secara ilmiah. Sebagai mana pada Q.S. 15 : 22;

pola pikir

“dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya”.

Dari ayat ini para scientist mendapat satu inspirasi untuk melakukan penyelidikan lebih jauh mengenai energi angin, sehingga tidak hanya dapat berfungsi mempertemukan serbuk sari dengan kepala putik, tetapi juga dapat dimanfaatkan lebih jauh untuk hal-hal lain. Dan hal ini juga telah disebutkan oleh Allah pada QS. 2 : 164.

pola pikir

“…dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh ia merupakan tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang beraksi”.

Setelah dikemukakan fakta-fakta tersebut di atas, kalau ternyata masih ada scientist yang mengaku beragama Islam tetapi tetap bersikeras bahwa agama jangan dibawa-bawa ke dunia sains, karena sains bersifat ilmiah, sedangkan agama bersifat dogmatis, maka orang semacam ini jelas telah terkungkung dalam pola kekafiran berfikir. Karena ia beranggapan bahwa Tuhan hanya dapat diakui keberadaan-Nya dalam hal-hal non-ilmiah, sedangkan dalam dunia ilmiah ada Tuhan lain selain Allah SWT atau sama sekali tidak ada Tuhan.

Pola Pikir Personifikasi

Leave A Reply