Kemesraan Dalam Keluarga

0

Rasulullah SAW bersabda : Jika Allah SWT menghendaki kebaikan kepada satu keluarga maka Dia menganugerahkan atas mereka pergaulan yang baik. (HR. Imam Ahmad)
Hubungan yang cair yang penuh dengan hal-hal yang “renyah”, bukan kaku dan serba keras, adalah sebuah pilar agar suasana selalu manis dirasa. Untuk itu ada beberapa hal yang mesti selalu diperhatikan.

Pertama, bermuka cerah ceria.
Wajah kaku, serem, dingin tanpa ekspresi, tanpa rona ceria sedikitpun hanya akan merusak suasana. Ia akan menciptakan situasi dan mempengaruhi nuansa hati orang-orang di sekitarnya. Sebaliknya, wajah yang ceria, ringan dan senantiasa tersungging senyum adalah pembawa kesegaran bagi yang ada di sekitarnya.

Dari Abu Dzar RA, dia berkata, “Rasulullah SAW berkata kepadaku, “Janganlah engkau mengabaikan kebaikan sekecil apapun, meskipun sekedar wajah cerah yang kau tunjukkan pada saudaramu ketika bertemu.” (HR. Muslim)
Jika terhadap saudara lainnya saja Rasulullah SAW memerintahkan untuk memasang wajah yang cerah, apalagi untuk istri dan keluarga. Tentunya lebih utama lagi.
Dari Bunda Aisyah, suatu saat Beliau ditanya, “Bagaimana Rasulullah SAW ketika berada di rumah?” Beliau menjawab, “Beliau (Rasulullah SAW) adalah orang yang paling lunak hatinya, mudah tersenyum, dan mudah tertawa.”    

Kedua, biasakan mendahulukan ucapan salam. Inilah pola hubungan yang luhur karena bermakna saling mendoakan. Salam adalah keselamatan. Allah SWT berfirman :
Kemesraan Dalam Keluarga

“Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diebri berkat lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya bagimu, agar kamu memahami-nya.” (QS. An-Nuur : 61)

Salam yang terucap dari dasar hati adalah kata yang niscaya akan memadu jiwa-jiwa dalam kebersamaan.

Ketiga, pandailah bersyukur. Jangan sungkan mengucapkan, “Terimakasih sayang! Jazakumullah ya!”

Bukankah Rasulullah SAW telah bersabda, “Barangsiapa yang diperlakukan baik lalu dia berkata kepada pelakunya, “Jazakallahu khairan” (semoga Allah SWT membalasmu dengan kebaikan) berarti dia telah memberikan penghargaan yang tertinggi kepadanya. “ (HR. at-Tarmidzi)

Rasulullah SAW juga bersabda, “Sesungguhnya orang yang paling bersyukur kepada Allah SWT adalah orang yang paling banyak berterimakasih kepada manusia.” (HR. Ahmad)

Dan sabdanya pula, “Tidak bersyukur kepada Allah SWT, orang yang tidak berterimakasih kepada manusia.” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi)

Padahal Allah SWT telah berfirman :
kemesraan-2.jpg

Dan (ingatlah juga), tatkala Rabb-mu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

Keempat, jangan suka mencela, berikan pujian untuknya. “Subhanallah, hari ini engkau cantik sekali.”

“Alhamdulillah, engkau suami yang baik dan bertanggungjawab. Aku bangga padamu.”

Pujian akan menjadikan seseoaang merasa dihargai. Bahkan buka itu saja, tetapi juga menjadikan hati senang dan puas kerena telah mampu memberikan kesenangan dan apa yang terbaik kepada pasangannya. Karena itulah pentingnya pujian antar suami-istri, yang karenanya bahkan kadang diperbolehkan berbohong karenanya. Dari Asma’ binti Yazid berkata, bersabda Rasulullah SAW: “Dusta bagi anak Adam diharamkan seluruhnya, kecuali pada tiga hal: (salah satunya) … seorang suami berduta kepada istri dengan tujuan membuatnya ridha.” (HR. at-Tarmidzi)

Ya, daripada jujur tetapi menyakitkan hati sang istri atau suami? Apalagi sudah menjadi rahasia umum, rata-rata para istri selalu ingin dipuji. Tetapi juga sebuah kenyataan bahwa rata-rata suami pelit untuk memuji istri.

Kelima, yang sangat penting untuk menumbuhkan kebahagiaan dalam keluarga,  jadilah suami-istri yang romantis dan super mesra.

Jika ingin tahu seperti apa manusia terbaik dalam urusan mesra-mesraan, simaklah beberapa hadits berikut ini.

“Sesungguhnya Allah SWT mencintai seorang istri yang pembujuk, elok (halus perangai) terhadap suaminya, dan menjaga diri dari selain suaminya.” (HR. ad-Dailami)

“Pernah aku minum, sedangkan aku dalam keadaan haidh, kemudian aku memberikan minum tersebut kepada Nabi (dari bejana yang sama), dimana beliau menempelkan mulutnya persis di tempat bekas aku minum, lalu beliau minum.” (HR. Muslim)

“Bahwasanya Nabi membaca Al Quran dan kepalanya berada di pangkuanku sedangkan aku dalam keadaan haidh.” (HR. al-Bukhari)

Aisyah RA berkata, “Aku mandi bersama Rasulullah SAW dalam satu bejana, aku mendahuluinya dan dia mendahuluiku (mengambil wadah) sampai-sampai dia berkata, “Tinggalkan untukku.” Dan aku berkata, “Tinggalkan untukku, tinggalkan untukku!” Dikatakan: keduanya dalam keadaan junub. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Aisyah RA berkata, “Rasulullah SAW tetap berpuasa, beliau mencium di bagian mana saja dari wajahku hingga beliau berbuka.” (HR. Anda-Nasa’i dan Ahmad)

Dan yang keenam, jangan lupa segarkan suasana dengan canda. Pada batasan tertentu, canda bisa membantu kita memecahkan kebuntuan dan mencairkan suasana. Tentunya, dengan catatan, seperlunya saja. Meski canda, tak boleh kelewatan. Karena jika begitu, justru bisa berubah menjadi sebab terlukanya perasaan.

Begitu pentingnya canda, sehingga Rasulullah SAW bersabda, “Segala sesuatu yang di dalamnya tidak ada dzikrullah adalah sia-sia belaka kecuali empat perkara; salah satunya percandaan laki-laki terhadap istrinya…” (HR. an-Nasaa-i)

Tujuan itu semua agar kedekatan selalu terjaga, dan kehangatan bisa selalu dirasa. Kini marilah kita pikirkan! Betapa banyak di antara kita justru terjebak rutinitas dalam keluarga yang ‘biasa saja’, kaku, atau bahkan tiada kedekatan antara suami dengan istri. Pernahkah kita merenung, mengapa kita justru bisa lebih dekat dengan para sahabat? Mengapa kita lebih terbuka dengan teman? Mengapa kita bisa lebih akrab dengan kawan-kawan sepergaulan daripada kepada istri kita? Daripada suami kita? Lalu manakah yang benar dan seharusnya? (Hanif H.)

Leave A Reply