Cahaya

0

aku.jpgMatahari pagi tersenyum menebar cahayanya membelah desaku.
Rumput liar dan bunga kali bergoyang dengan riak kecil aliran air sungai yang lancar, karena memang musim kemarau belum datang.
Indah dan damai meskipun tidak seperti dulu di saat aku masih kecil, dimana ikan-ikan berloncatan berebut umpan di mata kail teman-temanku yang dengan senyum dan sabar memancing mereka.
Kini…. Aku menghela nafas dan melangkah meninggalkannya dengan beban angan dan degup gejolak yang harus diraih.
Tuhan, maha suci Engkau di atas segala kelemahan ini. Karena di depan mataku Engkau lukiskan tangisan anak yang terluka di samping tubuh ibunya yang terbujur kaku. Jeritan anak menahan luka parah yang tak seharusnya ia rasakan.
Jalan raya menjadi penuntun pudarnya luapan emosi, airmata anak itu menuliskan kalimat bahwa aku tidaklah sendiri yang masih tertatih untuk menggapai mimpi dan memikat cahaya-Mu.

Leave A Reply